Home

Sejarah

Anggota

Angkatan

Kepengurusan

Lambang

DP dari Masa ke Masa

Kegiatan

Lain-lain


Mengapa Harus Palawa Unpad?

*Menjelang HUT Ke-31

Oleh: Djandjan - PLW 24382001 PW

Pengantar
Kalau mengingat lagi apa yang terjadi 31 tahun yang lalu, seperti ada penyangkalan dalam diri: masa’ sih sudah 31 tahun Palawa Unpad berdiri. Seolah tak percaya kalau perhimpunan ini sudah menapaki alam bebas sekian lamanya.

Tentu saja kita bangga dengan tetap bisa eksis selama ini. Namun semata-mata bangga hanya karena eksis juga tidak terlalu bijaksana. Sebab perjalanan usia juga harus dibarengi dengan apa yang sudah diperbuat –kalau terlalu muluk dikatakan sebuah prestasi– selama 31 tahun.

Itulah yang patut direnungi bersama. Apa yang sudah diperbuat oleh Perhimpunan selama ini. Hal ini erat kaitannya dengan apa yang sudah diperbuat Pengurus dan Anggotanya selama ini.

Lalu, mengapa Palawa Unpad harus berdiri? Apakah sekelompok mahasiswa Unpad kurang kerjaan, sehingga harus mendirikan perhimpunan ini? Apakah kuliah dan tugas-tugas kuliah masih kurang cukup atau mahasiswa masih memiliki waktu luang yang banyak, sehingga harus repot-repot mendirikan sebuah organisasi?

Sejarah
Sekelompok mahasiswa yang baru kuliah tiga bulan di Unpad sedang kumpul-kumpul di depan pintu Ruang K-2 di kampus Jalan Dipati Ukur 35 Bandung. Kalau tidak salah waktu itu sore hari di bulan Oktober 1981. Satu-satunya yang senior hanya Kang Soen (mahasiswa Fakultas Publisistik –sekarang Fikom/Fakultas Ilmu Komunikasi– angkatan 76).

Acaranya sih hanya kumpul-kumpul biasa seusai kuliah. Namun tidak tahu dari mana awal pembicaraannya, tiba-tiba muncul ide untuk membentuk klub rock climbing. Maklum waktu itu kegiatan rock climbing sedang naik daun.
Kang Soen memberi saran. Ini kan lembaga pendidikan tinggi, mengapa harus membuat klub rock climbing? Klub semacam ini terlalu sempit bagi sebuah lembaga pendidikan tinggi seperti Unpad. Apa tidak sebaiknya membuat klub yang lebih luas, yang bidang kegiatannya ada unsur ilmiahnya.

Masuk akal juga pendapat tersebut. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya teman-teman setuju dengan ide mendirikan klub pecinta alam. Kemudian disepakati untuk mengundang teman-teman dari fakultas lain yang seangkatan. Undangan pun dibuat dan disebar untuk pertemuan dengan teman-teman dari fakultas lain.

Pertemuan tersebut berlangsung di sebuah ruang kuliah FISIP (apa nama kelasnya ya yang naik tangga depan Markas Menwa?). Banyak juga yang hadir. Seluruh kursi yang ada di ruang hampir terisi. Jumlah yang hadir mungkin sekitar 40-an orang.

Dalam pertemuan itu teman-teman sepakat mendirikan klub pecinta alam. Walaupun begitu, teman-teman belum mempunyai gambaran jelas mau seperti apa klub atau kelompok pecinta alam tersebut. Untuk itu dalam pertemuan informal dengan beberapa teman-teman disepakati perlu bertemu dengan beberapa dosen yang memiliki latar belakang kegiatan di alam terbuka dan juga Rektor atau pejabat Unpad lainnya.

Kang Soen memberikan beberapa nama yang perlu dihubungi. Yang pertama dihubungi adalah Kang Ichary (Ichary Soekirno). Dosen F-MIPA dan juga dari Pusat Komputer Unpad ini memiliki pengalaman kegiatan di alam terbuka yang sangat panjang, selain juga dia berlatar pendidikan ice climbing dari Inggris.

Beberapa kali kami melakukan pertemuan di rumah Kang Ichary, Jl. Ciung No. 17 Bandung. Dalam pertemuan tersebut berkali-kali Kang Ichary berpesan bahwa tujuan utama yang harus dipegang setiap anggota adalah “menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya.” Selain itu, Kang Ichary juga selalu mengatakan pijakan dasar organisasi ini adalah “bina anggota, bina organisasi”. Makna pijakan ini sangat dalam, karena sudah mencakup seluruh aspek yang ingin dicapai organisasi.

Sebagai pelaksanaan dari misi tersebut, Kang Ichary mengusulkan agar membuat proposal yang lengkap –termasuk rencana pendidikan dasar– untuk diserahkan kepada pimpinan universitas, Rektor dan Pembantu Rektor III. Proposal tersebut juga diberikan kepada beberapa senior yang diharapkan akan menjadi pembina Palawa Unpad. Misalnya pendaki senior Kang Ekky (Ekky Setyawan, dosen FKG), Pak Pama (Pama S. Widjaja, pembina olahraga di Unpad), Kang Syarief (Syarief A. Barmawi, dosen FH yang juga penerjun dan banyak melakukan kegiatan di alam terbuka), A. Yunus (guru besar F-MIPA). Alhamudillah para senior tersebut –termasuk Kang Ichary dan Kang Soen– bersedia menjadi pembina.

Proposal pendirian perhimpunan dan rencana pendidikan dasar –setelah mengalami puluhan kali revisi– akhirnya diajukan ke Pembantu Rektor III Joesoef A. Ma’moen –seorang aktivis yang juga mempunyai hobi di alam terbuka. Pada dasarnya, menurut PR III, pihak universitas tidak keberatan lahirnya organisasi pecinta alam. Memang secara lisan, karena tidak pernah keluar sepucuk surat resmi tentang kehadiran perhimpunan ini.

Pada kesempatan itu Rektor dan PR III bersedia menjadi pelindung. Sedangkan dalam kaitannya dengan pendidikan dasar, untuk sementara pihak Unpad belum bisa memberi sumbangan apa-apa.

Teman-teman tidak terkejut dengan pernyataan tersebut, karena sejak awal perhimpunan ini tidak mau memberatkan pihak universitas. Teman-teman ingin mandiri, karena dengan kemandirian mudah-mudahan perhimpunan ini menjadi kuat dan siap menghadapi kondisi paling buruk sekalipun.

Bina Anggota Bina Organisasi

Ketika itu (dalam beberapa kali pertemuan), Kang Ichary selalu mengatakan pijakan dasar organisasi ini adalah “bina anggota, bina organisasi”. Makna pijakan ini sangat dalam, karena sudah mencakup seluruh aspek yang ingin dicapai Perhimpunan.

Kalau dikaji lebih mendalam, tagline “bina anggota, bina organisasi” sudah mencakup visi-misi Perhimpunan ini yang akan menjadi landasan kegiatan Perhimpunan. Lalu jika dijabarkan dalam dalam sebuah program kerja, maka isi program kerjanya akan menyangkut dan mencakup aspek “bina anggota, bina organisasi”.

Bina anggota memiliki pengertian yang sangat mendalam dan luas. Namun dapat pula diungkapkan dalam pengertian yang sangat sederhana. Kang Ichary selalu mengatakan hal yang paling sederhana dan realistis dalam bina anggota adalah ”setiap anggota Palawa Unpad harus lulus sebagai sarjana tepat waktu.” Ini hal yang paling realistis. Toh, tujuan utama kita masuk ke Unpad adalah lulus menjadi sarjana tepat waktu.

Perhimpunan ini harus mendorong anggotanya untuk lulus menjadi sarjana tepat waktu. Ada dua hal penting di sini, yakni: lulus menjadi sarjana dan tepat waktu. Coba renungkan.

Hal lainnya yang harus ditanaman Perhimpunan ini terhadap anggotanya adalah setiap anggota Palawa Unpad harus menjadi orang yang rendah hati, tidak sombong, pakailah ilmu padi (semakin berisi, semakin merunduk), saling membantu, dll. Toh pada akhirnya semua anggota Palawa Unpad akan kembali ke masyarakat. Dengan bekal semua yang diperoleh di Perhimpunan, maka Insya Alloh setiap anggota Palawa Unpad bisa diterima di semua lapisan masyarakat.

    Kerendahan Hati
    (Taufik Ismail)

    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
    yang tegak di puncak bukit
    jadilah belukar,
    tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau
    Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
    jadilah saja rumput,
    tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan
    Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
    jadilah saja jalan kecil,
    tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
    Tidaklah semua menjadi kapten
    tentu harus ada awak kapalnya…
    bukan besar kecilnya tugas
    yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
    jadilah saja dirimu…
    sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Sedangkan yang menyangkut bina organisasi adalah semua kegiatan Palawa Unpad selain bermanfaat ke dalam (menyelenggarakan kegiatan untuk anggota), juga bermanfaat keluar, bagi masyarakat.

Sesuai dengan sifat sebuah organisasi yang berada di bawah naungan sebuah lembaga pendidikan tinggi (Unpad), maka setiap kegiatan Palawa Unpad harus selalu dilandasi aspek-aspek ilmiah (selain dua darma lainnya dalam Tri Darma Perguruan Tinggi). Ini artinya, selain ada aspek petualangan yang memang menjadi daya tarik setiap anggota (calon anggota), juga harus dimasukkan aspek ilmiah untuk membedakan dengan organisasi serupa yang berada di luar lembaga pendidikan tinggi.

Mungkin kita harus introspeksi diri jika organisasi serupa di luar perguruan tinggi mampu melakukan kegiatan yang memiliki aspek ilmiah (seperti penelitian lingkungan atau penelitian penduduk), sementara Palawa Unpad tidak melakukannya dan hanya berkutat dengan kegiatan petualangan, demi fisik dan keterampilan semata. Tapi jika kegiatan Palawa Unpad sudah didominasi oleh kegiatan ilmiah, maka petut kita acungi jempol.

Sekali lagi , jadi tagline ”bina anggota, bina organisasi” harus tercermin dalam program kerja dan semua kegiatan Palawa Unpad.

Nilai Moral & Kebersamaan

Setiap orang memiliki latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. Kadar latar belakang dan sifat berbeda satu sama lain, yang dibawa dari akar keluarga masing-masing. Ini artinya mahasiswa calon anggota Palawa Unpad memiliki latar belakang dan sifat berbeda.

Ketika masing-masing mahasiswa tersebut menjadi anggota Palawa Unpad, maka semua perbedaan akan diseimbangkan dengan sendirinya. Semua perbedaan yang ada di masing-masing individu sedemikian rupa diseimbangkan melalui berbagai kegiatan, seperti diklatdas, pendidikan lanjutan, program kerja, dan interaksi sehari-hari. Sehingga tercipta pola interaksi antaranggota yang baik. Sehingga tercipta kebersamaan yang dilandasi oleh saling menghormati, tenggang rasa, dan saling membantu.

”Hidup” di Palawa Unpad memiliki nilai moral tersendiri. Sadar atau tidak, setiap anggota –mulai ketika mengikuti Diklatdas, kemudian dilantik, berinteraksi, mengikuti berbagai kegiatan— akan membentuk nilai moralnya masing-masing sesuai dengan nilai moral yang ada di Perhimpunan. Walaupun tidak tertulis dan tidak diucapkan secara verbal, namun nilai moral akan terbentuk dengan sendirinya. Masing-masing anggota secara tidak disadari akan berkata dan bertindak sesuai dengan moral yang berlaku di Perhimpunan, sehingga akan tercipta kebersamaan dan bisa diterima di Perhimpunan. Karena moral yang terbentuk di Pehimpunan ini baik dan memiliki nilai plus, maka ketika seorang anggota kelak terjun ke masyarakat, maka masyarakat dapat menerimanya (dan mungkin ada nilai plus-nya).

Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah atau di luar sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama. (Wikipedia)

Di sisi lain, Palawa Unpad tetap menghargai dan tidak akan merusak perbedaan yang ada pada diri masing-masing anggota, karena hal itu merupakan ciri khas dan potensi masing-masing (individu) anggota.

Namun ketika perbedaan itu masuk ke wilayah Perhimpunan, maka masing-masing anggota akan meng-adjust semua perbedaan (dan ego) sedemikian rupa, sehingga tercipta keharmonisan sebagai landasan sebuah kebersamaan.

Tentu tidak mudah untuk meng-adjust sebuah perbedaan (dan ego). Perlu waktu dan latihan di diri masing-masing, terutama ketika berada di Perhimpunan. Memang pada titik tertentu kadang-kadang timbul gesekan kecil di Perhimpunan. Hal ini menandakan bahwa masing-masing anggota sedang berusaha untuk membuat keseimbangan, sehingga tercipta satu titik temu yang membuat semua pihak happy. Hal ini berujung pada terciptanya kondisi Perhimpunan yang baik dan sesuai dengan tujuan Perhimpunan ini dibentuk.

Untuk itulah saya sebagai senior berani berkata ”Tuan-tuan tidak salah memilih untuk menjadi anggota Palawa Unpad”. Selamat berjuang.

Tangerang, 22 Maret 2013
(2 hari menjelang ulang tahun Palawa Unpad ke-31)

(End)