Home

Sejarah

Anggota

Angkatan

Kepengurusan

Lambang

DP dari Masa ke Masa

Kegiatan

Lain-lain


Menggapai Sang Dewi Langit

oleh: Bayu Bharuna

Mencapai puncak gunung mana pun dianggap kurang penting dibanding dengan cara seseorang mencapainya.

Bangsa Nepal yang tinggal di selatan Everest menamakan gunung itu Sagarmatha atau Dewi Langit. Sementara orang Tibet yang tinggal di utara menjulukinya Jomolungma, yang berarti Ibu Dunia. Segera setelah dinobatkan sebagai puncak tertinggi di dunia pada tahun 1852 maka Everest menjadi tujuan pendakian utama di bumi ini. Kebesaran namanya begitu menggetarkan setiap pendaki di seantero bumi.

Pendakian Himalaya
Manusia harus menunggu hingga satu abad lamanya untuk mencapai puncak Everest sejak tahun ditemukannnya. Itupun setelah dikunjungi 15 tim ekspedisi dan tak kurang puluhan korban tewas. Menurut Gunther O. Dyrenfurth, seorang pendaki Himalaya kenamaan, pendakian ke Himalaya merupakan upaya manusia yang bersifat mendunia, sebuah sasaran yang layak diraih, apapun risiko dan kerugian yang harus dihadapi.

Tentu saja puncak-puncak ekstrem di Pegunungan Himalaya bukan hanya Gunung Everest. Setidaknya ada 14 puncak berketinggian di atas 8.000 meter di Pegunungan Himalaya yang merupakan piala paling didamba para pendaki. Namun tetap banyak pula puncak-puncak bersalju lainnya yang selalu menantang untuk dikunjungi. Bagi sebagian besar penggemar pendakian gunung di Indonesia mendaki di Pegunungan Himalaya tak ubahnya seperti mimpi saja. Ambisi untuk melakukan pendakian ke puncak Everest seperti angan-angan yang mengawang. Namun kita tak usah berkecil hati, Pegunungan Himalaya memiliki begitu banyak puncak bersalju yang tetap memiliki kharismanya tersendiri.

Wacana pendakian
Saya harus angkat topi kepada Bonk (Ahmad Holidi/CP) yang selalu konsisten membawa wacana pendakian gunung salju di PLW, dari Carstenz hingga Pegunungan Himalaya. Provokasi Bonk setidaknya telah membuka mata sebagian anggota untuk mulai memikirkan penjelajahan ke belahan bumi yang lain. Walau tentu saja beberapa ide Bonk terkadang terlalu maju untuk masanya, sehingga dianggap yang lain seperti mendongak terlalu tinggi. Sungguhpun begitu berbagai wacana dan pengkondisian untuk pendakian gunung salju tetap berlangsung tiap tahunnya. Lokakarya untuk membahas kemungkinan pendakian ke Pegunungan Himalaya mendapat perhatian banyak anggota. Beberapa puncak tujuan yang sempat hangat dibahas adalah Chamlang dan Lobuje East. Puncak salju Mount Blanc di Perancis sempat pula dibicarakan dengan serius, selain Carstenz Pyramid tentunya.

Pada tahun 1997 persiapan panitia ke Pegunungan Himalaya mendekati kematangan. Publikasi terbatas pada stiker maupun kaos telah beredar luas. Seleksi fisik untuk atlet pun mulai dilaksanakan dengan ketat. Beberapa anggota peserta seleksi di lapangan Gasibu, Bandung, terhuyung hingga muntah-muntah akibat ketatnya kualifikasi fisik yang dituntut oleh panitia. Namun setelah krisis moneter menghantam Indonesia –yang menyebabkan nilai tukar dolar melambung tak terkendali– kelanjutan persiapan ekspedisi ke Pegunungan Himalaya pun tak terdengar lagi. Walau hal tersebut memang sesuatu yang wajar, karena hampir semua proyek berbiaya dolar di negeri ini terancam gagal dilaksanakan pada saat itu.

KALLAPATTHAR - Anggota PLW Ami KMD –yang tergabung dalam tim pendakian untuk Lupus– mengibarkan syal PLW di puncak Kalapatthar (5.545 m dpl). Foto: Ist/Grafis: PLW/Ronald Agusta.

Cara berbeda
Sejak saat itu pendakian gunung salju tak lagi banyak terdengar, hingga keikutsertaan PLW dalam ekspedisi Polygon 1999 yang salah satunya pencapaiannya berhasil menjejakkan kaki di Carstenz Pyramid, Papua. Barulah lama setelah itu pada tahun 2006 baru terdengar lagi kabar bahwa Ami (PM) mencapai puncak Kalapatthar yang merupakan salah satu puncak di gugusan Pegunungan Himalaya walaupun dengan tujuan yang berbeda. Maka ketika mendengar keberhasilannya mencapai Kalapatthar, ada sedikit keharuan yang menyeruak. Barangkali bukan saya sendiri saja namun juga semua yang pernah larut dalam idealisme dulu. Selain bangga kepada pencapaiannya, sejenak saya teringat pada sekian tahun lampau ketika kami seringkali menguras fisik di lapangan Gasibu dibakar idealisme pendakian Himalaya. Tuhan telah memperkenankan syal kuning berkibar di Pegunungan Himalaya dengan cara-Nya sendiri, yang terkadang berbeda dengan cara yang kita inginkan.

Bagi sebagian anggota, berkibarnya syal kuning di Kalapatthar merupakan titik kulminasi penantian selama ini dalam menggapai Sang Dewi Langit. Namun saya lebih yakin ini hanyalah sebuah letusan pistol di garis start, sebab akan lebih banyak lagi pemakai syal kuning yang berduyun-duyun menuju puncak yang dijanjikan di pegunungan Himalaya.***

*)Penulis adalah alumnus Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Unpad
**)e-mail: bharuna04@yahoo.com