Home

Sejarah

Anggota

Angkatan

Kepengurusan

Lambang

DP dari Masa ke Masa

Kegiatan

Lain-lain


Mandor yang Memprihatinkan

oleh: Bayu Bharuna - PLW 24382073 KP

Tak memiliki apapun berarti tak memiliki alasan
untuk takut (kehilangan) apapun

Petualang manakah yang tak berdesir hatinya mendengar nama Kalimantan. Sebuah nuansa magis akan merasuk ketika memandangi alamnya dan mendengar cerita-ceritanya. Pulau ke-3 terbesar di dunia ini termasuk sasaran favorit tour of duty anggota-anggota PLW. Hampir setiap angkatan yang aktif –sejak mulai dari Cadas Panjang– pernah tur ke Kalimantan. Mungkin karena sebelumnya belum pernah ada jejak resmi syal kuning di sana. Atau juga karena pesona magisnya yang eksotis.

Sejak TWKM di Kalimantan Barat, pesona Kalimantan pun mulai dikuak para young guns. Bulan September 1994, tak lama setelah menuntaskan ekspedisi Sulawesi, para bomber di PLW kembali berkemas untuk menuju Kalimantan Barat. Mereka adalah Wawan Barang, Dodi, Firkan, Barbar, Opik, dan Kuphil (KP). Dengan menumpang KM Binaiya dari Tanjungpriok, tim menuju Pontianak untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan destinasi yang berbeda-beda. Saya sendiri bergabung dengan tim yang melakukan perjalanan eksplorasi di Rawa Mandor, Kabupaten Landak.

Setelah itu tercatat beberapa ekspedisi resmi telah dilakukan, seperti OLRI I (Operasi Lintas Rimba Indonesia), Ekspedisi Bukit Daya, dan partisipasi PLW dalam Ekspedisi Polygon. Adalah Sadikin (CP) yang memunculkan wacana suatu ekspedisi ilmiah terbatas ke Kayan Mentarang di Kutai, Kalimantan Timur. Ekspedisi pada tahun 1996 itu dinamakan Operasi Lintas Rimba Indonesia (OLRI) dan diharapkan menjadi cikal berkembangnya ekspedisi ilmiah yang diharapkan akan berkembang lebih matang di masa mendatang.

Cagar Alam Mandor
Kawasan cagar alam Mandor dapat dicapai kira-kira 2,5 jam dari kota Pontianak menggunakan kendaraan darat. Cagar Alam Mandor merupakan salah satu kebanggaan Provinsi Kalbar, karena ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1936. Luas keseluruhan kawasan yang ditetapkan pada 1982 adalah 3.080 hektare.

mandor
SETAPAK - Jalan setapak menuju rawa-rawa kawasan
Mandor. [Foto: PLW/koleksi Bar]

Cagar Alam Mandor memiliki kondisi topografi umumnya datar, dengan tipe ekosistem hutan tropis gambut, dataran rendah berawa, dan hutan kerangas. Pada tipe-tipe ekosistem tersebut terdapat beraneka jenis flora dan fauna. Keberadaan tiga tipe ekosistem di dalam kawasan sangat mendukung kehidupan beraneka ragam jenis tumbuhan dan satwa.

Di kawasan cagar alam ini juga ada hutan adat seluas 60 hektare yang menjadi tempat subur berbagai jenis anggrek alam khas Kalimantan. Cagar alam ini tidak hanya soal melestarikan hutan, tetapi juga cagar budaya dan sejarah, Di Makam Juang Mandor, yang terletak tak jauh dari kawasan Cagar Alam Mandor, 21.037 warga setempat terbunuh akibat kekejaman tentara Jepang pada tahun 1942.

Kerusakan alam
Cagar Alam Mandor merupakan kawasan hutan kerangas. Pepohonannya tumbuh di atas pasir, sehingga ketika hutan itu ditebangi, yang tersisa adalah padang pasir yang tandus. Sayangnya saat ini kawasan Cagar Alam Mandor telah rusak akibat ulah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Penambangan terus berlangsung, sehingga sedikitnya 1.000 hektare dari 3.000 hektare hutannya mengalami kerusakan ekosistem.

Cagar Alam Mandor kondisinya kini semakin memprihatinkan. Sebagian kawasannya telah berubah jadi padang pasir. Beberapa alur Sungai Kapuas dan anak sungainya, seperti di daerah Sintang dan Kapuas Hulu, juga rusak parah akibat penambangan emas di tengah sungai. Lingkungan yang rusak akibat penambangan emas juga banyak ditemui di Kabupaten Sintang, Melawi, dan Ketapang

Rasa solidaritas
Namun bagi saya yang paling membekas dalam touring di Pulau Borneo saat itu adalah ketika harus terkapar di rumah sakit. Beberapa hari setelah eksplorasi di rawa-rawa selesai, justru di kota Pontianak, saya roboh akibat muntaber yang sedang mewabah di sana. Maka beberapa hari pun harus dilewatkan dengan selang-selang infus di rumah sakit, padahal tak ada dana lebih yang dibawa.

Beruntung bahwa rasa solidaritas di antara sesama pecinta alam sangat lah tinggi. Saya tak tahu berapa dana yang mereka kumpulkan bersama dan pendekatan seperti apa yang mereka lakukan pada pihak rumah sakit ketika itu hingga saya tak banyak mengeluarkan biaya selama tiga hari mendapat perawatan. Sampai kini pun terkadang saya masih berpikir, andai punya kesempatan untuk menyampaikan terimakasih pada semua orang yang telah membantu saat itu.

Beberapa orang akan menganggap sebagai kelemahan saat roboh di tengah perjalanan. Namun di balik itu, saya menganggap pengalaman tersebut sebagai teguran halus dari Tuhan agar kerap tidak terlampau over confidence. Harus diakui bahwa kurun waktu tersebut merupakan masa kondisi puncak di mana hampir tak ada situasi apapun yang terlalu saya khawatirkan. Maka siapakah yang tak merasa terhormat, bahwa petitih itu langsung disampaikan sendiri oleh Yang Maha Penyayang, dengan cara-Nya sendiri.***