Home

Sejarah

Anggota

Angkatan

Kepengurusan

Lambang

DP dari Masa ke Masa

Kegiatan

Lain-lain


Ekspedisi Kayan Mentarang

Oleh: Bayu Bharuna - PLW 24382073 KP

Semangat dan keinginan kuat untuk unggul adalah yang memperkuat daya tahan. Kualitas ini jauh lebih penting daripada peristiwanya (Lombardi – pelatih sepakbola)

Musyawarah Perhimpunan (Muper) 1995 di bulan September mengamanatkan kepada Dewan Pengurus (DP) yang baru untuk menjalankan ekspedisi di tahun 1996. Namun kali ini DP yang diketuai Rovino (TS-Peternakan) tidak berambisi menyelenggarakan ekspedisi kolosal semacam Andalas 1991 atau Sulawesi 1994.

DP cukup percaya diri dengan tidak membentuk kepanitian maupun persiapan khusus bagi ekspedisi kali ini, melainkan hanya memasukkannya ke dalam program kerja Dikbang (Divisi Pendidikan dan Pengembangan), yang mengisyaratkan bahwa ekspedisi kali ini akan lebih ramping dibanding kedua ekspedisi besar sebelumnya.

Ekspedisi ilmiah
Setelah melangsungkan lokakarya, Dikbang yang saat itu dipegang Barbar (KP-Ekonomi) memilih bentuk ekspedisi ilmiah terbatas yang akan memiliki muatan ekologis. Lokasi tujuannya sendiri belum ditetapkan, namun metodologinya mulai dirancang. Sebagai data awal, beberapa daftar perjalanan tim PLW yang memiliki muatan konservasi dan ekologi mulai dilihat-lihat kembali.

Konsep pengembaraan tim Ujungkulon 1992, misalnya, cukup menarik, karena mengadopsi metode observasi konservasi kawasan yang didapat dari Pendidikan Konservasi BKSDA. Demikian pula pengembaraan tim Way Kambas 1988 dapat dikembangkan menjadi penelitian yang lebih serius.

Sebenarnya waktu yang tersedia sangatlah sempit untuk mempersiapkan sebuah ekspedisi ilmiah yang memadai. Diklat angkatan Saba Halimun yang melibatkan hampir seluruh bomber PLW baru selesai akhir Desember 1995. Setelah itu, sampai empat bulan ke depan, Dikbang cukup tersita konsentrasinya mengkoordinasikan Mabim angkatan baru tersebut.

Beruntung kala itu PLW memiliki infantri yang spartan dan lapar petualangan. Mereka merupakan para petualang yang telah jadi, sehingga tak menuntut banyak persiapan teknis. Seperti kata Aime Jaquet ketika membawa tim Perancis di Piala Dunia, teknik sepakbola apalagi yang harus ia ajarkan kepada seorang Zidane? Ia adalah sepakbola itu sendiri….

Sehingga yang dilakukan saat itu hanyalah memberikan sentuhan akhir, yaitu membangkitkan passion untuk melakukan penelitian.

Sebagai eksperimen, Dikbang mengirimkan tim kecil beranggotakan Diki (MR-Kehutanan), Gorin (KP-Fikom), dan Erika (TS-Hukum) sebagai pilot project penelitian in situ ke Cagar Alam Sancang di Garut Selatan. Hasil observasi tim merupakan evaluasi untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dalam skala yang lebih terukur.

Adalah Sadikin (CP-Antropologi) yang kemudian memunculkan wacana suatu ekspedisi ilmiah terbatas dengan metode penelitian yang lebih reliabel. Ekspedisi yang dinamakan Operasi Lintas Rimba Indonesia (OLRI) ini diharapkan menjadi cikal berkembangnya ekspedisi ilmiah PLW. Lokasinyapun sudah dibidik: Cagar Alam Kayan Mentarang di Kutai, Kalimantan Timur.

Ide ini cukup menarik antusias anggota dan sejalan dengan program Dikbang, apalagi belum pernah ada ekspedisi resmi PLW ke Borneo – kecuali perjalanan-perjalanan anggota. Maka tak makan waktu lama OLRI menjadi agenda resmi ekspedisi Palawa Unpad tahun 1996.

Karena baru pertama diselenggarakan dan dinilai cukup memiliki bobot, kegiatan ini dinamakan OLRI I. Diharapkan nantinya akan muncul OLRI II, III, dan seterusnya dengan metode penelitian yang semakin berkembang. Bahkan bukan tak mungkin suatu saat dapat diselenggarakan semacam Operation Raleigh yang melibatkan berbagai pihak dan multidisiplin ilmu.

The winning team
Di tengah persiapan, beberapa kendala muncul dan menghambat penyelenggaraan ekspedisi ini. Dari minimnya waktu persiapan, batalnya penggunaan fasilitas WWF di lokasi cagar alam, tidak adanya fotografer berpengalaman, hingga berhalangannya Sadikin sebagai ketua tim untuk mengikuti ekspedisi. Dana yang seret juga hampir saja membatalkan kepergian Tim Ekspedisi Kayan Mentarang ini, karena setelah dikalkulasi ternyata dana yang ada hanya cukup untuk pergi saja!

Namun toh tak ada yang dapat menghalangi hasrat para petualang untuk sampai ke tempat tujuannya. Moda transport sesungguhnya dari para pemilik jiwa yang resah itu adalah daya jelajah mereka sendiri, yang lahir dari keinginan yang kuat untuk memberi makna lebih pada hidup.

Maka dengan militansi tinggi Tim Ekspedisi Kayan Mentarang yang tediri dari Dunga (KP-PAAP), Diki (MR-Kehutanan), dan Anas (SH-MIPA) tetap berangkat ke pedalaman Kutai, Kalimantan Timur di tengah segala keterbatasan yang ada. Semua kekurangan hanya akan dapat diatasi oleh kreativitas, kekompakan, dan fighting spirit tim di sana.

Saya salut pada determinasi Tim Ekspedisi Kayan Mentarang dalam mengatasi semua kendala di lapangan. Pada beberapa kontak yang dilakukan oleh tim dari tanah Borneo, tampak banyaknya kendala yang muncul di lapangan. Namun saya selalu yakin, tim akan mengerahkan segala yang terbaik dimilikinya.

night camp
TINGGI - Pohon yang menjulang tinggi di tengah rimba. [Foto: PLW/Kuphil]

Sebagian pihak hampir tak percaya saat tim dapat merampungkan ekspedisi ini dengan baik dan penuh dedikasi. Mereka membuktikan diri sebagai the winning team yang berkualifikasi dalam mengemban misi kritis untuk memulai tradisi penelitian di tengah minimnya dukungan yang diperlukan untuk sebuah standar ekspedisi ilmiah. Beberapa target penelitian memang terpaksa dipangkas, namun tak mengurangi apresiasi pada Tim Ekspedisi Kayan Mentarang.

Pada tahun 2001, PLW kembali menyelenggarakan sebuah ekspedisi ilmiah di Tolaki Ulu, Sulawesi Tenggara (Lihat tulisan: Bercermin pada Kearifan Masyarakat Alaaha). Entah ini ada kaitannya dengan OLRI atau tidak. Namun setidaknya, tradisi ekspedisi ilmiah PLW tetap terjaga dan diwariskan.

Para perintis ekspedisi ilmiah di PLW boleh berharap bahwa mereka telah meninggalkan the right track untuk terus dilalui, yaitu sebuah idealisme segar yang saya yakin akan terus berkembang.***